Modernis.co, Semarang – Mahasiswa KKN-T 103 Universitas Diponegoro memperkenalkan Rumah Burung Hantu (RUBUHA) dengan smart monitoring berbasis Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) kepada petani Desa Tanjungsari, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan.
Inovasi tersebut merupakan pengendalian hama tikus sawah yang ramah lingkungan. Inovasi ini menggabungkan pemanfaatan burung hantu sebagai predator alami tikus dengan teknologi pemantauan jarak jauh yang dapat dipantau secara real time.
Hama tikus masih menjadi masalah yang sering dihadapi petani karena dapat merusak tanaman dan mengurangi hasil panen. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa KKN-T 103 UNDIP menghadirkan RUBUHA dengan smart monitoring berbasis PLTS sebagai salah satu upaya pengendalian hama tikus yang ramah lingkungan.
RUBUHA merupakan sarang buatan yang dibuat untuk menarik burung hantu agar menetap di area persawahan. Burung hantu dikenal sebagai predator alami tikus yang dapat membantu mengurangi populasi hama di area persawahan.
Berbeda dengan RUBUHA pada umumnya, RUBUHA yang dikembangkan oleh mahasiswa KKN-T 103 UNDIP dilengkapi sistem smart monitoring berbasis PLTS. Panel surya yang terpasang digunakan sebagai sumber energi untuk mengoperasikan sistem sensor.
Data yang diperoleh dari sensor dapat dipantau melalui remote dengan jangkauan hingga satu kilometer. Informasi yang ditampilkan meliputi keberadaan burung hantu, suhu, dan kelembaban di dalam RUBUHA yang dapat dilihat secara real time.
Inovasi tersebut dikenalkan kepada petani melalui kegiatan diskusi dan demonstrasi penggunaan alat. Pada kegiatan tersebut, petani mendapatkan penjelasan mengenai fungsi RUBUHA, cara kerja sistem smart monitoring, serta manfaatnya dalam mendukung pengendalian hama tikus di lahan pertanian.
Agus Istiono, petani Desa Tanjungsari, menyambut baik inovasi tersebut. Menurutnya, keberadaan burung hantu masih cukup sering dijumpai di sekitar desa sehingga peluang RUBUHA untuk ditempati cukup besar.
“Di desa ini burung hantu masih sering terlihat. Dengan adanya RUBUHA, kami berharap burung hantu dapat menetap di sekitar sawah sehingga membantu mengurangi serangan hama tikus,” ujarnya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap program tersebut, mahasiswa KKN-T 103 UNDIP juga meresmikan RUBUHA yang telah dibangun di area persawahan Desa Tanjungsari agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara berkelanjutan.
Kepala Desa Tanjungsari, Tri Suryatno, mengapresiasi inovasi yang dikembangkan oleh mahasiswa KKN-T 103 UNDIP. Ia berharap RUBUHA dengan smart monitoring berbasis PLTS dapat menjadi solusi pengendalian hama tikus yang ramah lingkungan.
“Semoga inovasi ini dapat menjadi alternatif pengendalian hama tikus yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, sehingga mampu membantu meningkatkan produktivitas pertanian serta memberikan manfaat bagi para petani di Desa Tanjungsari,” katanya.
Implementasi RUBUHA dengan smart monitoring berbasis PLTS tidak hanya membantu petani mengendalikan hama tikus, tetapi juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 2 (Zero Hunger) melalui upaya peningkatan produktivitas pertanian, SDGs 7 (Affordable and Clean Energy) melalui pemanfaatan energi surya sebagai sumber energi sistem pemantauan, serta SDGs 15 (Life on Land) melalui pemanfaatan burung hantu sebagai predator alami untuk menjaga keseimbangan ekosistem pertanian. (IN)



Kirim Tulisan Lewat Sini